
Museum Pawukon mempersembahkan Pameran dan Launching Buku Wanua Brata, sebuah ruang dialog inklusif yang mempertemukan rekam jejak historis desa dengan visi futuristik anak-anak dalam Sayembara Ngramal 2125. Sebuah pengingat bahwa masa depan bukanlah sekadar ramalan, melainkan hasil dari kebijakan dan kerja kolektif yang kita tanam hari ini.
tanti w.
Penulis
Museum Pawukon mempersembahkan Pameran dan Peluncuran Buku Wanua Brata pada Minggu (01/02/2026). Acara ini merupakan rangkaian pengabdian masyarakat bertajuk Widya Bhakti antara Museum Pawukon, Sanggar Watugunung, dan Karang Taruna Bhakti Remaja Sidorejo yang mencoba mewujudkan peran dalam masyarakat serta membangun ruang imajinasi mengenai ruang tinggal di masa depan. Melalui Wanua Brata, sejarah dan masa depan dipertemukan dalam satu ruang dialog.

Pameran ini terdiri dari beberapa ruang yaitu ruang potret masa lalu, galeri Sayembara Ngramal 2125 dan karya lainnya, serta Ruang Ngramal. Pada ruang potret masa lalu pengunjung akan disuguhkan dengan rekam jejak desa era silam. Bagian ini menjadi fondasi refleksi, menampilkan kesederhanaan rumah penduduk, moda transportasi desa, evolusi edukasi dan tata kelola desa, teknologi pertanian lokal hingga dinamika perekonomian masyarakat pada masanya. Dokumentasi ini bukan sekadar rekaman mati, melainkan saksi bisu sebuah desa yang sedang bermetamorfosis.

Melangkah lebih jauh ke dalam galeri, kita dapat melihat langsung karya-karya imajinatif anak-anak dari Sayembara Ngramal: Desaku 2125. Di sini, anak-anak memvisualisasikan kecanggihan teknologi pertanian dan sistem ekonomi futuristik, namun dengan tetap mempertahankan kearifan lokal serta asrinya alam.

Sebagaimana tertulis di Buku Wanua Brata, meramal masa depan diibaratkan seperti menanam kebijaksanaan. Melalui kacamata anak-anak, kita melihat Wanua (desa) tergambar dengan alam sebagai nyawanya, serta Brata (perjalanan) yang terwujud dalam teknologi yang bukan berfungsi sebagai pengganti manusia, melainkan sebagai media yang merawat kehidupan. Visi ini diperkuat dengan kesaksian hidup melalui video dokumenter Bapak Rian, seorang pelaku seni dalang, yang berbagi kisah evolusi desa serta petuah berharga untuk generasi mendatang.
Meskipun begitu, harapan baik untuk masa depan tidak akan terwujud tanpa adanya gerakan di masa kini. Itulah mengapa Museum Pawukon bersama Sanggar Watugunung hadir merawat akar masa lalu untuk dititipkan kepada generasi masa depan melalui kelas budaya, seperti yang tercermin dalam Ujian Sanggar Seni Watugunung pada Minggu (25/01/2026). Rangkaian pameran ini juga diperkaya dengan bincang-bincang budaya dan workshop yang diisi oleh Desa Budaya, Komunitas Wanita Tani, Desa Prima & Preneur, Komunitas Kompor Seni, serta Karang Taruna Desa.

Sebagai penutup perjalanan, pameran ini menyediakan Ruang Ngramal. Di sini, pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga diajak menuliskan ramalan dan harapan mereka sendiri untuk hari esok. Wanua Brata akhirnya menjadi sebuah pengingat bahwa kita tidak hanya melihat ke belakang untuk menentukan arah, namun juga merawat masa kini agar harapan yang kita sematkan bisa terwujud.

Semoga melalui pameran dan Buku Wanua Brata ini, kita mampu mewariskan dunia di mana anak-cucu kita tidak hanya memiliki kemajuan teknologi, tetapi juga akar yang kuat untuk mencintai tanah kelahiran dan merawat nafas kehidupan yang kita jaga bersama.