Pasar Urup urup dalam Tradisi Kedaulatan Pangan
Pameran Wanua Brata resmi ditutup dengan menghidupkan kembali Pasar Urup-urup, sebuah tradisi barter di Desa Sidorejo yang menempatkan rasa saling percaya di atas nilai nominal mata uang. Melalui pertukaran hasil bumi yang heterogen selama musim panen, pasar ini bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan manifestasi etika kecukupan dan teknologi sosial kuno yang menjamin ketahanan pangan setiap rumah tangga.
tanti w.
Penulis
Pameran Wanua Brata telah resmi ditutup dengan salah satu puncak acaranya, Pasar Urup-urup. Di Ruang Potret Masa Lalu, kita melihat jejak 'Urup-urup'—sebuah masa dimana transaksi bukan soal mencari laba, tapi tentang menjaga nyala hidup sesama. Barter adalah teknologi sosial tertua yang membuktikan bahwa kedaulatan desa berakar pada rasa saling percaya, jauh sebelum angka-angka nominal mendikte nilai keberadaan kita.
Kali ini kita menyelam sedikit lebih dalam melalui ingatan masa kecil simbah kita di masa panen raya. Masa di mana mata uang bukan selembar kertas bernilai maupun kepingan logam dingin, melainkan kepercayaan yang terjalin dan keringat yang bertukar rupa di Pasar Urup-urup.
Pasar Urup-urup merupakan ruang interaksi dimana masyarakat saling tukar menukar hasil bumi tanpa perantara mata uang konvensional. Di Desa Sidorejo, khususnya di perempatan Karang, Sidorejo, pasar ini berlangsung selama musim panen. Masyarakat saling menukarkan hasil panen maupun hasil dari kebun pekarangan rumah. Mata pencaharian yang beragam serta hasil kebun yang heterogen memperkaya Pasar Urup-urup ini.
Di perempatan Karang ini, nilai hasil bumi tidak dipahat oleh hukum pasar global, melainkan oleh etika kecukupan. Semangkok beras yang ditukar dengan sesisir pisang bukan sekadar transaksi barang, melainkan sebuah ikrar bahwa tidak boleh ada dapur yang berhenti mengepul di Sidorejo. Pasar Urup-urup menjadi bukti bahwa ketahanan pangan sejati tidak dibangun di atas tumpukan modal, melainkan di atas jejaring kasih antar-masyarakat yang saling menggenapi.
Melalui Pasar Urup-urup yang digelar kembali ini kita tidak hanya mencoba menghidupkan kembali tradisi namun juga kembali mengingat bahwa toleransi, gotong royong dan kedalaman interaksi sosial merupakan jiwa dari masyarakat desa yang perlu dijaga. Nilai-nilai ini bukan hanya warisan moral, namun juga menjadi fondasi ketahanan lokal pangan masyarakat; sebuah ekosistem di mana ketahanan lokal tidak dibangun di atas angka-angka statistik, melainkan di atas rasa saling percaya yang menjaga setiap dapur tetap menyala.
